ARTICLE AD BOX
Sugi Lanus dalam konferensi pers Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2025 di Sanur, Denpasar, Sabtu (22/3/2025) malam, menuturkan Nusa Dua sebagai tonggak pembangunan pariwisata modern Bali dikembangkan atas kerja sama Pemerintah dengan UNDP (Badan Program Pembangunan PBB).
“Saya ingin meluruskan saja Nusa Dua itu tidak dibangun dengan Tri Hita Karana itu bohong,” ujar pria filolog.
Sugi Lanus yang meneliti sejarah konsep THK mengatakan, pada tahun 1969 kata THK jelas tidak masuk dalam studi awal pembangunan kawasan Nusa Dua yang dilakukan lembaga UNDP bekerja sama dengan sebuah perusahaan konsultan milik Pemerintah Prancis bernama Centrale Société pour I’Équipement Toristique Outre-Mer (SCETO). Sugi Lanus mengatakan, secara teknis kata THK baru muncul pada tahun 1966 dan tahun 1972 mulai dikenal luas.
“Jadi pengembangan (Nusa Dua) itu adalah nilai-nilai Prancis tahun 1960an,” jelasnya.
“Tidak ada satu pun hotel di Bali membangun berdasarkan Tri Hita Karana itu hanya mimpi saja,” imbuhnya.
Kajian SCETO, kata Sugi Lanus, memang memandang penting nilai-nilai lokal. Rekomendasi yang dimunculkan pada saat itu di antaranya adalah membangun daerah pariwisata yang terpisah dari penduduk, membangun pariwisata di lahan tidak subur, dan pembangunan tidak merusak alam sekitarnya.
Menurut Sugi Lanus, rekomendasi konsultan Prancis tersebut tidak serta merta bisa diklaim bahwa pembangunan kawasan wisata pertama di Bali berdasarkan konsep THK.
“Ini kalau diklaim sebagai Tri Hita Karana ‘nyongkoin tain kebo’ namanya,” sebut Sugi Lanus. Peribahasa Bali nyongkokin tain kebo kurang lebih artinya mengakui hasil kerja yang bukan pekerjaannya sendiri.
Sugi Lanus pun mengkritisi penghargaan THK Awards yang diikuti hotel-hotel di Bali. Menurutnya, THK merupakan sebuah konsep abstrak, sehingga menerjemahkannya ke dalam hal-hal teknis seperti kriteria penghargaan THK Awards bukan hal yang mudah.
Menurutnya, kalau mau jujur, belum ada hotel yang benar-benar menerapkan konsep THK.
Sejauh ini THK hanya menjadi pemanis citra pariwisata Bali.
“Saya bisa bilang ini konsep gagal, gagal mengatur palemahan. Kalau konsep tidak bisa diimplementasikan secara teknis, konsep ini hanya berhasil sebagai slogan,” ucap pria kelahiran Singaraja, Buleleng
“Dia hanya peneguhan atau klaiming atau rebranding pariwisata semenjak tahun 1970an,” imbuhnya.
Sugi Lanus menawarkan masyarakat pariwisata Bali melihat kembali pada konsep Panca Maha Butha untuk mengembangkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
“Asal (unsur) Panca Maha butha sehat, pariwisata Bali sehat,” ujarnya.
Panca Maha Bhuta adalah konsep dalam agama Hindu Bali yang menggambarkan lima unsur pembentuk alam semesta, yakni Teja (unsur panas atau cahaya), Apah (unsur cair atau air), Bayu (unsur angin atau udara), Perthivi (unsur padat atau tanah), dan Akasa (unsur ruang atau eter). Menurut Sugi Lanus, Bali setidaknya sudah mengenal konsep Panca Maha Butha sejak abad ke-10. Tercermin dalam prasasti tertua di Bali yang ditemukan di Sanur, prasasti Blanjong.