Tradisi Mbed-Mbedan di Desa Semate, Warisan Leluhur yang Sarat Makna

5 days ago 3
ARTICLE AD BOX
Tradisi Mbed-Mbedan memiliki kemiripan dengan tarik tambang, di mana dua kelompok saling tarik-menarik menggunakan tali tambang dan tanaman bun kalot—tanaman merambat khas setempat yang tumbuh di area setra Desa Adat Semate. 

Ritual ini diawali dengan persembahyangan di Pura Kahyangan Putih Semate, dilanjutkan dengan prosesi di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Semate. Masyarakat setempat mempersembahkan tipat dan bantal sebagai simbol purusa-pradana (kesatuan laki-laki dan perempuan) sebelum akhirnya melaksanakan tradisi Mbed-Mbedan di jaba pura.

Tradisi ini merupakan warisan yang tercantum dalam Raja Purana Desa Adat Semate. Tradisi ini diyakini sebagai bhisama (amanat) dari seorang resi bernama Mpu Bantas, yang berkaitan dengan tarik ulur pengambilan keputusan dalam pemberian nama Desa Putih Semate.

Tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki filosofi mendalam. Mbed-Mbedan menggambarkan dinamika dalam mengambil keputusan penting di desa, sebagaimana yang terjadi saat penamaan Desa Putih Semate di masa lalu.

Semate memiliki makna ‘berketetapan hati’ atau ‘sehidup semati’ di tanah kelahiran. Oleh karena itu, tradisi ini menjadi simbol persatuan masyarakat dalam mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya.

Ritual ini diawali oleh pemangku lanang istri, kemudian diikuti oleh krama lanang istri sebagai simbol purusa-pradana, dilanjutkan oleh yowana (generasi muda), dan diakhiri dengan partisipasi warga secara umum. Iringan tetabuhan baleganjur dari sekaa gong anak-anak pesraman turut menambah semarak suasana.

Tari Rejang Giri Putri ditampilkan mengiringi saat tradisi Mbed-Mbedan di Desa Adat Semate, Badung, Bali, Minggu (30/3/2025). -ANTARA

Pada masa lalu, Mbed-Mbedan sepenuhnya menggunakan bun kalot sebagai alat tarik-menarik. Namun, seiring berkurangnya tanaman tersebut, masyarakat kini menggunakan tali tambang, sementara bun kalot tetap dipertahankan secara simbolis dalam ritual ini.

Usai prosesi tarik-menarik, seluruh warga kembali ke pura untuk melaksanakan makan bersama dan bermaaf-maafan, sebagai bentuk penutup Hari Raya Nyepi dan awal kehidupan yang lebih harmonis.

Tradisi ini sempat tidak digelar selama bertahun-tahun, hingga akhirnya kembali dihidupkan pada tahun 2011.  Saat pandemic Covid-19, tradisi ini juga ditiadakan, hingga mulai 2023 diselenggarakan lagi.

Pemahaman mendalam tentang filosofi Mbed-Mbedan baru ditemukan sekitar tahun 2002, setelah salah satu warga bertemu dengan seorang pengajar, Ketut Sudarsana, yang kini menjabat sebagai Bendesa Adat Kapal. Ia menemukan kata ‘Semate’ dalam lontar Bhuwana Tattwa dan mengaitkannya dengan Raja Purana Desa Adat Semate.

Dengan semakin dikenalnya tradisi Mbed-Mbedan, masyarakat Desa Adat Semate berharap generasi muda tetap melestarikan warisan leluhur ini sebagai bagian dari identitas budaya Bali yang kaya makna. 

Read Entire Article