ARTICLE AD BOX
Hal ini ditegaskan Paloh ketika berkunjung ke Kantor DPW NasDem Bali di Jalan Cok Agung Tresna, Denpasar, Kamis (3/4/2025). Kunjungan kerjanya ke Bali ini dirangkaikan acara pelantikan Pengurus DPW NasDem Bali Periode 2024-2029.
“Saat ini NasDem tahu diri. Institusi partai politik yang bernama NasDem ini memang belum pantas berada di dalam kabinet di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo," jelas Paloh.
Awalnya, Ketua DPW NasDem Bali I Nengah Senantara iseng mengusulkan Ketua DPW NasDem Bali Periode 2020-2024 Julie Sutrisno Laiskodat mengisi kursi kabinet jika NasDem masuk pemerintahan. Usulan ini tidaklah buruk. Namun, Paloh menegaskan belum waktunya.
Kata politisi dan pengusaha kelahiran Aceh ini, NasDem tidak berjasa secuilpun untuk memenangkan Prabowo-Gibran di Pilpres 2024 lalu. Jelas, lantaran NasDem mengusung pasangan calon sendiri kala itu yakni Anies-Muhaimin.
“Maka inilah konsekuensi politik yang harus kita buktikan, NasDem tahu diri. Ada budaya malu di dalamnya,” tegas Paloh.
Meski begitu, Paloh menegaskan bahwa NasDem bukanlah partai oposisi. NasDem, kata dia, adalah partai pendukung pemerintah tanpa harus masuk ke dalamnya. NasDem disebut teman yang akan memberikan masukan ketika diperlukan.
Paloh menuturkan, jalan politik yang dipilih NasDem ini untuk memutus rantai stigma masyarakat bahwa parpol itu pada dasarnya mabuk kekuasaan. “Nah, di sini momentum kami mengatakan bahwa kecuali Partai NasDem,” lanjutnya.
Langkah strategis yang diambil NasDem disebut menjadi proses pendidikan politik ala partai biru emas yang muncul lebih dulu dengan istilah ‘Politik tanpa Mahar.’ Kata Paloh, NasDem tidak mau terseret stigma masyarakat yang sudah kadung melihat parpol secara negatif.
“Kalaupun ditawari lagi (masuk kabinet), jawaban kami tetap sama,” tandas Paloh.
Sementara itu, Paloh juga tidak membenarkan kadernya berpangku tangan ketika melihat kondisi negara sedang tidak baik-baik saja. Ia meminta kader NasDem berkontribusi kepada negara dalam perjalanan menuju kemajuan yang tidak mulus ini. *rat
“Saat ini NasDem tahu diri. Institusi partai politik yang bernama NasDem ini memang belum pantas berada di dalam kabinet di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo," jelas Paloh.
Awalnya, Ketua DPW NasDem Bali I Nengah Senantara iseng mengusulkan Ketua DPW NasDem Bali Periode 2020-2024 Julie Sutrisno Laiskodat mengisi kursi kabinet jika NasDem masuk pemerintahan. Usulan ini tidaklah buruk. Namun, Paloh menegaskan belum waktunya.
Kata politisi dan pengusaha kelahiran Aceh ini, NasDem tidak berjasa secuilpun untuk memenangkan Prabowo-Gibran di Pilpres 2024 lalu. Jelas, lantaran NasDem mengusung pasangan calon sendiri kala itu yakni Anies-Muhaimin.
“Maka inilah konsekuensi politik yang harus kita buktikan, NasDem tahu diri. Ada budaya malu di dalamnya,” tegas Paloh.
Meski begitu, Paloh menegaskan bahwa NasDem bukanlah partai oposisi. NasDem, kata dia, adalah partai pendukung pemerintah tanpa harus masuk ke dalamnya. NasDem disebut teman yang akan memberikan masukan ketika diperlukan.
Paloh menuturkan, jalan politik yang dipilih NasDem ini untuk memutus rantai stigma masyarakat bahwa parpol itu pada dasarnya mabuk kekuasaan. “Nah, di sini momentum kami mengatakan bahwa kecuali Partai NasDem,” lanjutnya.
Langkah strategis yang diambil NasDem disebut menjadi proses pendidikan politik ala partai biru emas yang muncul lebih dulu dengan istilah ‘Politik tanpa Mahar.’ Kata Paloh, NasDem tidak mau terseret stigma masyarakat yang sudah kadung melihat parpol secara negatif.
“Kalaupun ditawari lagi (masuk kabinet), jawaban kami tetap sama,” tandas Paloh.
Sementara itu, Paloh juga tidak membenarkan kadernya berpangku tangan ketika melihat kondisi negara sedang tidak baik-baik saja. Ia meminta kader NasDem berkontribusi kepada negara dalam perjalanan menuju kemajuan yang tidak mulus ini. *rat