ARTICLE AD BOX
NEGARA, NusaBali
Salah seorang nelayan, I Komang Sumo, 38, warga Desa Tegal Badeng Barat, Kecamatan Negara, Jembrana, hilang tenggelam setelah terseret arus di perairan Ketapang Muara, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Sabtu (22/3) siang. Insiden itu terjadi saat korban berusaha mengikat bagian katir jukungnya yang lepas di tengah laut.
Dari informasi, peristiwa naas itu bermula saat korban Sumo alias Mang Amo bersama tiga orang temannya pergi memancing membawa jukung fiber milik korban. Tiga temannya itu, bernama I Putu Adi yang juga warga Tegal Badeng Barat, I Kadek Wahyu Vivekanta, 31, dari Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, dan I Komang Agus Triana, 27, dari Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara.
Mereka berangkat dari Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan dan pergi memancing di tengah laut seputaran perairan Perancak, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana. Namun setelah melihat cuaca di tengah laut yang kurang bersahabat pada sekitar pukul 12.00 Wita, korban bersama 3 temannya memutuskan balik.
Dalam perjalanan pulang pada sekitar pukul 12.30 Wita itu, tepatnya saat memasuki sekitar perairan Ketapang Muara, Pengambengan, korban melihat katir jukungnya yang sebelah kiri lepas. Tanpa pikir panjang, korban kemudian mengambil tali dan menceburkan diri ke laut untuk mengikat katir tersebut.
Naas saat korban berusaha mengikat katir itu, tiba-tiba datang angin kencang disertai gelombang besar yang menghantam jukungnya. Hantaman gelombang itu membuat korban yang sempat berpegangan pada katir jukung pun terhempas sehingga tangannya lepas dari pegangan.
Saat itu korban seketika terseret arus deras dan menghilang. Ketiga temannya yang melihat insiden itu sempat berusaha mencari korban, namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban. Mereka pun akhirnya menepi di pesisir Ketapang Muara dan bergegas melapor kejadian tersebut kepada warga setempat yang lanjut meneruskan laporan ke petugas Sat Polairud Jembrana serta tim SAR.
Kapolres Jembrana AKBP Endang Tri Purwanto saat dikonfirmasi Minggu (23/3), membenarkan adanya peristiwa nelayan yang hilang tenggelam akibat terseret arus tersebut. Setelah menerima laporan pada Sabtu siang itu, anggotanya yang berjaga di Pos Polairud Pengambengan sempat turun melakukan pencarian dengan mengerahkan speed boat Polairud ke sekitar kejadian tersebut.
Namun, pencarian oleh anggotanya termasuk dari tim SAR Gabungan pada hari pertama yang sempat berlangsung hingga Sabtu sore pukul 16.30 Wita, tidak membuahkan hasil.

‘’Anggota Polairud kita sudah langsung melakukan pencarian di sekitar lokasi. Sementara belum ditemukan. Hari ini (Sabtu kemarin, red) juga masih dilakukan upaya pencarian oleh tim SAR gabungan," ujar AKBP Endang.
Selain kejadian tersebut, AKBP Endang menyatakan di hari yang sama Sabtu (22/3), juga ada dua insiden lain yang menimpa nelayan Jembrana. Salah satunya adalah insiden jukung nelayan terbalik akibat dihantam gelombang tinggi di tengah perairan Perancak, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana.
Kejadian jukung terbalik itu dialami seorang nelayan bernama I Wayan Kartika, 53, dari Banjar/Desa Perancak, Jembrana. Korban sempat dilaporkan tenggelam dalam insiden yang terjadi pada sekitar pukul 12.00 Wita tersebut. Saat kejadian itu, seorang nelayan Perancak yang ada di dekat lokasi tidak bisa menolong karena cuaca buruk.
Namun, saksi berinisiatif kembali ke daratan untuk mengabarkan kejadian tersebut kepada keluarga dan warga Perancak. Setelah menerima kabar itu, dilakukan pencairan bersama sejumlah nelayan lain ke lokasi kejadian. Alhasil, korban berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah diketahui masih berpegangan pada jukungnya yang terbalik.
Sementara satu insiden lainnya, adalah jukung nelayan mengalami mati mesin di seputaran perairan Rambut Siwi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo. Insiden itu dialami dua orang nelayan bernama I Dewa Komang Sudiana, 62, besama I Dewa Komang Yudi Partika, 51, dari Desa Yehkuning, Kecamatan Jembrana.
Kedua nelayan dalam satu jukung itu dilaporkan sempat terombang-ambing akibat kondisi mesin mati pada sekitar pukul 13.30 Wita. Adanya laporan peristiwa itu pun sempat ditindaklanjuti Bhabinkamtibmas Yehkuning bersama petugas Pos Pencarian dan Pertolongan (SAR) Jembrana yang turun melakukan pencarian menggunakan rubber boat Basarnas pada sekitar pukul 14.30 Wita.
Setelah dilalukan upaya pencairan selama satu jam lebih, kedua nelayan itu pun berhasil ditemukan di perairan dekat pesisir Rambut Siwi. Selanjutnya kedua korban dan jukungnya dievakausi tim SAR bersama sejumlah nelayan menuju pantai Yeh Kuning.
Bertalian dengan beberapa kejadian itu, AKBP Endang pun mengimbau kepada para nelayan untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan kondisi ataupun prakiraan cuaca sebelum melaut. Terlebih akhir-akhirnya ini sering terjadi cuaca buruk.
AKBP Endang juga meminta para nelayan untuk melengkapi diri dengan alat keselamatan seperti jaket pelampung. "Kami turut prihatin atas kejadian itu. Apalagi ada satu korban yang belum ditemukan. Kami mengimbau kepada nelayan agar selalu berhati-hati dan mengutamakan keselamatan," ucap AKBP Endang.
Sementara itu, tim SAR gabungan kembali turun melakukan upaya pencarian terhadap korban Mang Amo, Minggu kemarin. Pencarian kemarin melibatkan total 20 personel gabungan dengan mengerahkan rubber boat Basarnas dan speed boat Polairud. Namun, operasi pencarian hari kedua yang dilalukan sejak pagi hingga sore sekitar pukul 16.00 Wita, masih belum membuahkan hasil.
"Tadi pencarian mulai jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Tadi cuaca cukup mendukung, cuman sorenya saat shorty kedua angin agak kencang dari barat. Besok (hari ini, red) akan kita lanjutkan pencarian mulai pagi," ujar Kepala Pos SAR Jembrana Dewa Putu Hendri Gunawan.7ode