Generasi Milenial Kurang Awas dengan Risiko Kejahatan Siber 

1 week ago 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, Gizmologi – Generasi milenial dikenal sebagai penduduk asli digital yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Mereka tampak paham teknologi, namun penelitian terbaru dari Kaspersky mengungkapkan bahwa 70 persen dari mereka jarang memverifikasi identitas daring orang-orang yang berinteraksi dengan mereka. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap ancaman dunia maya seperti penipuan identitas, misinformasi, dan manipulasi emosional.

Fenomena ini menciptakan paradoks: meskipun mahir dalam teknologi, generasi milenial masih cenderung mempercayai informasi secara daring tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Sebanyak 64 persen pernah menghadapi kasus di mana seseorang salah menggambarkan identitas mereka secara daring, tetapi hampir separuh dari mereka tetap memercayai informasi dalam komunitas digital mereka. Hal ini menunjukkan bahwa keahlian digital tidak selalu sejalan dengan kesadaran terhadap keamanan siber.

Psikolog siber Ruth Guest memperingatkan bahwa rasa percaya diri yang berlebihan dalam dunia digital dapat berujung pada perilaku berisiko. Banyak individu dengan sifat manipulatif, seperti narsistik dan psikopat, memanfaatkan kepercayaan ini untuk menipu orang lain. Oleh karena itu, penting bagi generasi milenial untuk menerapkan pola pikir skeptis dan lebih berhati-hati dalam interaksi daring mereka.

Baca Juga: Kaspersky: Akun Valid Jadi Target Serangan Siber, Ancaman Terus Berkembang di 2024

Risiko Privasi di Era Media Sosial

Privacy Data

Media sosial telah menjadi tempat utama bagi generasi milenial untuk berbagi momen penting dalam hidup mereka. Penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh dari mereka mengunggah berita pribadi secara daring sebelum memberitahukannya kepada orang terdekat secara langsung. Meskipun mendapatkan validasi dari like dan komentar terasa menyenangkan, perilaku ini juga memiliki risiko.

Sebanyak 45 persen generasi milenial merasa nyaman membagikan informasi pribadi secara daring, tanpa menyadari bahwa hal tersebut dapat meningkatkan risiko penipuan phishing, pencurian identitas, dan doxing. Penjahat siber dapat dengan mudah menyusun serangan yang ditargetkan berdasarkan informasi yang tersedia secara publik, seperti lokasi check-in, tempat kerja, dan status hubungan.

Menurut Marc Rivero, Peneliti Keamanan Utama di Kaspersky, berbagi informasi pribadi secara berlebihan dapat meningkatkan kerentanan terhadap berbagai ancaman siber. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk mempertimbangkan kembali apa yang mereka bagikan, memperkuat pengaturan privasi, dan memahami bagaimana jejak digital mereka dapat digunakan oleh pihak lain.

Membangun Keamanan Digital yang Lebih Kuat

digital illusions

Untuk mengurangi risiko kepercayaan daring yang berlebihan, generasi milenial perlu mengadopsi kebiasaan keamanan digital yang lebih baik. Salah satu langkah utama adalah selalu memverifikasi identitas orang yang berinteraksi dengan mereka secara daring. Menggunakan pencarian gambar terbalik atau memeriksa ulang profil media sosial dapat membantu menghindari interaksi dengan akun palsu.

Selain itu, generasi milenial harus lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Selalu memverifikasi fakta dari berbagai sumber sebelum mempercayai atau membagikan informasi dapat membantu mengurangi penyebaran misinformasi. Memahami tanda-tanda phishing dan manipulasi daring juga menjadi keterampilan penting dalam menjaga keamanan digital.

Langkah lainnya adalah melindungi informasi pribadi dengan memperketat pengaturan privasi media sosial dan menggunakan kata sandi yang kuat serta unik untuk setiap platform. Dengan menerapkan langkah-langkah ini, generasi milenial dapat lebih aman dalam menjalani kehidupan digital mereka dan mengurangi risiko menjadi korban ancaman dunia maya.

Artikel berjudul Generasi Milenial Kurang Awas dengan Risiko Kejahatan Siber  yang ditulis oleh Christopher Louis pertama kali tampil di Gizmologi.id

Read Entire Article