ARTICLE AD BOX
Kepala Dinas Pariwisata Bali, Tjok Bagus Pemayun, menegaskan bahwa istilah “Nyepi” sebaiknya tidak dipakai dalam konteks promosi yang menjual pengalaman wisata selama Hari Raya Nyepi. Hal ini demi menjaga kesucian dan kekhusyukan umat Hindu dalam menjalankan Tapa Brata Penyepian.
“Silakan menawarkan paket menginap, tapi jangan menggunakan diksi ‘Nyepi’. Lebih baik dikemas untuk menyambut libur panjang atau long weekend,” ujar Tjok Pemayun saat ditemui di Jayasabha, Denpasar, Senin (24/3/2025).
Tjok Pemayun menekankan bahwa perayaan Nyepi adalah momen sakral bagi umat Hindu di Bali. Selama 24 jam, umat menjalankan empat pantangan: amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati geni (tidak menyalakan api), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).
“Akomodasi pariwisata harus menghormati nilai-nilai religius ini agar pelaksanaan Nyepi bisa berlangsung khidmat,” tambahnya.
Di sisi lain, Dispar Bali optimistis libur panjang Nyepi yang berdekatan dengan Idul Fitri akan mendongkrak kunjungan wisatawan domestik ke Bali. Saat ini pariwisata Bali berada pada masa low season yang berlangsung dari Februari hingga April. Namun, pihaknya mencatat ada sedikit penurunan kunjungan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Penurunan ini bisa jadi karena tren wisatawan yang lebih memilih menginap di vila atau homestay. Selain itu, faktor eksternal seperti konflik geopolitik global dan harga tiket pesawat yang masih tinggi juga mempengaruhi,” jelas Tjok Pemayun.
Meski begitu, ia optimistis pergerakan wisatawan Nusantara akan meningkat dalam waktu dekat, terutama menjelang Idulfitri. Dibukanya jalur tol Probolinggo–Paiton di Jawa Timur dinilai akan mempermudah akses darat menuju Bali.
“Harga tiket domestik juga mulai masuk akal. Stakeholder pariwisata terus memantau pergerakan ini. Saya optimis Bali akan kebanjiran wisatawan Nusantara,” pungkasnya. *adi