Banyuning dan Sambangan Prioritas, Peningkatan Pelayanan PDAM

1 week ago 2
ARTICLE AD BOX
SINGARAJA, NusaBali
Layanan air bersih Perumda Air Minum Tirtha Hita di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng dan Desa Sambangan di Kecamatan Sukasada, dikeluhkan pelanggan karena sering mati. Pelanggan pun sering geram karena air tidak mengalir saat jam-jam krodit berangkat bekerja dan malam hari. Kondisi ini pun tidak terjadi sekali, namun cukup sering.

“Di rumah saya sering kali mati pas mau mandi berangkat kerja. Bagaimana hal ini bisa terjadi padahal masih ada hujan tapi seperti musim kemarau,” ucap salah satu pelanggan Yahya Umar, yang mewakili keluhan pelanggan di Perumahan BTN Banyuning Indah, Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng.

Menanggapi keluhan tersebut Dirut Perumda Tirtha Hita Buleleng I Made Lestariana, Senin (24/3) kemarin mengatakan, sudah mengupayakan beberapa solusi. Dia pun mengakui ada defisit penyediaan air bersih di kawasan Banyuning, karena perkembangan perumahan cukup pesat. Kini jumlah pelanggan di Kelurahan Banyuning sebanyak 6.000 sambungan rumah. Sedangkan debit air yang tersedia baru 40 liter per detik dari idealnya 60 liter per detik.

“Kami sudah lakukan penggantian pipa dengan diameter yang lebih besar, menambah tendon-tendon yang disuplai dengan mobil tangki dan pompa air untuk mendorong air ke rumah pelanggan. Kami upayakan pelanggan seharinya dapat air tidak sampai di bawah waktu pelayanan kami yang minimal 17 jam,” ucap Lestariana.

Selain penanganan mendesak, Perumda Tirtha Hita juga sudah merencanakan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) bekerjasama dengan Baga Utsaha Desa Adat (Bupda) Desa Adat Pumahan Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada. Kerjasama ini terjalin karena Bupda Pumahan memiliki kelebihan air 10 liter per detik. Air dari Pumahan ini akan dialirkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Banyuning.

Selain itu rencana jangka panjang, Perumda juga sedang mengajukan proposal pembangunan reservoar dan pipa transmisi ke Pemprov Bali. Rencananya debit air dari sumur bor di Pulau Obi, Kelurahan Banyuning, akan dibawa ke reservoar di daerah hulu, setelah itu baru akan dialirkan ke pelanggan di Kelurahan Banyuning.

“Dengan perkembangan penduduk yang pesat di Banyuning, kami memang perlu reservoar yang lebih besar. Kalau yang ada saat ini kapasitasnya kecil jadi sudah perlu diperbaharui. Ini perlu anggaran cukup besar sekitar Rp 8 miliar, mudah-mudahan tahun ini disetujui Pemprov Bali,” ungkap Lestariana.

Selain Banyuning, rencana peningkatan kualitas layanan juga dilakukan di Desa Sambangan. Secara umum kendala hampir sama dengan Banyuning karena masuk daerah berkembang. Hanya saja Sambangan posisinya agak di ketinggian, sehingga perlu dibangun reservoar di dataran yang agak tinggi.

“Tahun 2025 ini kami sudah siapkan anggaran Rp 2 miliar untuk peningkatan layanan di Sambangan. Bertahap kita kerjakan. Rencananya akan membangun reservoar dan sumur bor termasuk mengupayakan suplai air dari mata air di Desa Ambengan dibawa ke Sambangan. Kami sudah jajaki pemilik lahan yang ada sumber airnya, tahun ini kita mulai garap,” papar pejabat asal Kelurahan/Kecamatan Sukasada, Buleleng ini.7 k23
Read Entire Article